Minggu, 08 November 2015
Fenomena "APOTEKER" yang disamakan dengan penjual obat
Dewasa kini , mungkin belum banyak orang yang mengetahui betul perihal salah satu profesi kesehatan yang bernama : " apoteker ". Banyak orang berfikir " apoteker adalah orang yang (hanya) menjual obat di apotek ."" jika begitu apa gunanya mereka menuntut ilmu hingga ke perguruan tinggi ?" .
Menjadi apoteker tidak semudah menelan bubur bayi yang halus dan lembut, tidak semudah membuka mata ketika tubuh dalam keadaan sehat .
Apoteker adalah suatu profesi yang untuk meraih gelarnya harus bergelut menimba ilmu di perguruan tinggi. Harus dengan sabar melalui berbagai tahapan .
Apoteker bukanlah orang yang semata-mata menjual obat . Tetapi apoteker adalah seseorang yang mengerti betul perihal tentang obat . Obat sendiri menurut dunia ilmu pengetahuan merupakan zat xenobiotik.Dimana zat xenobiotik itu sendiri adalah zat yang masuk ke dalam tubuh tetapi tidak sama dengan zat-zat yang ada di dalam tubuh . Obat sendiri pada dasarnya adalah senyawa yang asing bagi tubuh dan obat sendiri dapat berperan sebagai racun bagi organ tubuh jika digunakan dengan dosis yang seharusnya .
Seperti yang kita ketahui, obat yang beredar di masyarakat terdapat banyak bentuk,seperti contohnya yang umum terdengar di masyarakat adalah tablet , kapsul, sirup , salep dan lain- lain. Jika kita telusuri lebih dalam lagi teblet itu sendiri terbagi lagi menjadi beberapa bentuk dalam dunia farmasi,yaitu tablet kempa, tablet salut enterik , tablet hisap , tablet effervescent dan lain lain begitu pula kapsul, salep dan lainnya.
Membuat obat tidak semudah meracik bumbu masakan , seperti contohnya kita membuat tablet yang umum saja yaitu tablet parasetamol.Dalam pembuatan tablet parasetamol, tidak hanya parasetamolnya yang terdapat dalam tablet,karena apa ? karena parasetamol yang mempunyai batas dosis tertentu yang aman dikonsumsi tubuh. Dikarenakan sesuatu yang berlebihan dalam tubuh khusunya zat xenobiotik akan menyebabkan peralihan fungsi menjadi racun.Belum lagi dosis yang diberikan ke setiap individu berbeda , misalkan pada bayi dan orang dewasa . Bayi yang organ tubuhnya dan sistem imunnya belum berkembang secara optimal harus diperhatikan secara khusus dalam pemberian obat terutama pada dosisnya.Hal ini akan sangat berbeda di bandingkan dengan orang dewasa yang organ dan sisitem imunnya sudah berkembang secara optimal.Pemberian obat pada populasi orang tertentu juga akan sangat berbeda : seperti pada orang hamil yang (notabene) setiap zat yang dikonsumsi akan ikut terkonsumsi juga oleh janinnya.
Bayangkan saja jika batas maksimal suatu zat obat yang dikonsumsi 0,25 mg (seperti digoksin untuk penyakit jantung). Apakah mudah untuk membuat tablet dari komposisi bahan dengan berat yang sangat minim ?? Untuk itu dalam bidang farmasi hal ini menjadi salah satu bahasan yang krusial.Segala pembuatan obat dengan bentuk obat apapun tidak hanya dibuat secara asal-asalan. Tetapi dengan berbagai macam aspek yang harus didalami dicermati dan diperhatikan secara teliti karena kembali lagi pada sifat obat yang merupakan zat xenobiotik. Salah satu aspek yang harus dicermati adalah perihal stabilitas obat yang akan dibuat.Seperti halnya makanan yang kita konsumsi sehari hari, terlebih makanan yang kita buat sendiri,pastilah ada masa dimana makanan yang kita buat menjadi tidak layak dikonsumsi atau dengan kata lain basi.nah ... dari basi itu secara logika terdapat adanya sesuatu di dalam makanan yang tidak stabil bukan ? karena semua yang berjalan normal di dunia ini bahwasanya berdasarkan keseimbangan komponen penyusunnya,sebagai contoh lain, anda berdiri dengan kedua kaki yang seimbang pasti akan lebih mudah dari pada dengan kaki yang tidak seimbang (misal salah satu kaki kita diberi beban tertentu dan kaki kita yang sebelahnya dibiarkan bebas) begitu pula dengan obat , komponen di dalam obat tidak hanya satu tetapi terdiri dari beberapa komponen.Dari komponen-komponen ini harus di buat sestabil mungkin agar efek terapi dari suatu obat tercapai.Nah .... pernahkah anda membayangkan apakah mudah membuat obat itu stabil ? stabil disini adalah stabil dalam proses pembuatan, stabil dalam proses pengemasan , stabil saat didistribusikan, stabil ketika ada di tangan konsumen, juga stabil ketika dikonsumsi dan disimpan konsumen. Tentu hal itu bukanlah hal yang mudah.
Hal-hal diatas adalah segelintir uraian dari beberapa bahasan kompetensi- kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang apoteker. Jadi sudah semestinya seorang calon apoteker harus mendapatkan pembekalan ilmu yang kompleks yaitu ilmu yang adal di perguruan tinggi terlebih dahulu .
Terlepas dari pendidikan, APA HAL YANG MENDASAR YANG MENJADI PEMBEDA TUKANG OBAT DENGAN APOTEKER ??
sebenarnya sudah jelas bahwa apoteker adalah orang yang sudah dibekali kompetensi tertentu berkaitan dengan obat dari cara pembutannya, stabilitas, cara penggunaan, zat aktif serta kestabilan zat aktifnya, indikasi yang tepatnya berdasarkan kelimuan dan tidak berdasarkan mengada-ngada,apoteker juga mengetahui eprihal kelas-kelas obat tertentu dengan khasiat yang tidak jauh beda, terlebih sekarang apoteker juga dituntut memberikan pengobatan yang rasional tidak hanya mementingkan perihal komersial dan penghasilan semata.
Di era sekarang ini, juga apoteker dituntut menjadi generasi yang berorientasi kepada pasien selain juga beroriestasi kepada produk sehingga apoteker juga secara langsung berkontribusi dalam permasalahan-permasalah pada pengobatan (drug related problem).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar